Salib dan Simon orang Kirene

Apa yang terjadi pada Paskah 2000 tahun yang lalu. Pada injil Markus 15:20-22, kita melihat ada satu orang yang cukup penting sebab orang ini ditulis dalam ketiga Injil yang ada. Tidak banyak informasi yang ada tentang orang tersebut, hanya beberapa ayat. Alkitab mencatat orang tersebut adalah Simon orang Kirene.

Kirene adalah nama sebuah kota di daerah Shahhat, Libya, di Afrika Utara, tepat di bawah Yunani. Kirene memang didirikan oleh orang Yunani pada tahun 630SM sebagai settlement dari orang-orang Greek dan merupakan daerah yang subur. Entah bagaimana ceritanya di Kirene ini cukup banyak orang Yahudi. Mungkin beberapa orang Yahudi lari kesini waktu pembuangan ke Babilon.

Tahun 90SM Kirene berada dibawah kekuasaan Romawi. Orang Yahudi menikmati hak-hak yang sama di kota tersebut dengan orang-orang Kirene. Orang-orang Yahudi yang sudah hidup lama disana berbaur dengan orang Kirene setempat.

Meski Simon disebut sebagai orang Kirene dan kemungkinan besar kulitnya gelap, adalah keturunan orang Yahudi. Sebab nama Simon adalah nama Yahudi: Simon/Simeon = Allah mendengar. Sesuai adat dan tradisi orang Yahudi, Simon pasti mendengar banyak cerita tentang sejarah Yahudi dan tentunya Taurat.  Simon ini jelas tahu tentang perayaan Paskah yang penting buat orang Yahudi. Simon pun pasti tahu tentang kota Yerusalem, kota di mana Abraham hampir membunuh dan mempersembahkan anaknya. Tempat dimana Daud menjadikan ibukota kerajaannya, dimana bait Allah didirikan oleh Salomo, kota yang mana Nehemia membangun kembali temboknya. Dan tentunya Simonpun mendengar tentan Bait Allah yang megah yang dibangun oleh raja Herodes.

Kedua hal penting di atas, perayaan Paskah dan kota Yerusalem mendorong Simon untuk menabung supaya dapat pergi ke Yerusalem merayakan Paskah disana. Bisa dibilang ini adalah ‘Bucket List’ nya Simon.

Jarak Kirene ke Yerusalem yang kira-kira 1500 km adalah sebuah perjalanan yang panjang untuk saat itu, bisa berkisar 3-5 minggu. Perjalanan bisa melalui laut ataupun darat.
Melalui jalan darat jauh lebih panjang, karena terbatas berjalan hanya di siang hari saja. Sedangkan lewat laut dengan kapal lebih cepat karena bisa terus berjalan siang dan malam. Kemungkinan jalur laut ini yang dipilih Simon. Dari pelabuhan di Kirene dengan mampir di beberapa pelabuhan lainnya akhirnya Simon mendarat di pelabuhan Joppa (sekarang Tel-Aviv), tempat di mana Yunus lari dari perintah Tuhan, dan justru Simon datang untuk mencari Tuhan. Jarak Joppa ke Yerusalem kira-kira 60 km, ditempuh dengan perjalan darat 3-5 hari.

Kira-kira pada hari H-3, Simon tiba di kota Yerusalem dan dia melihat ada keramaian orang banyak melihat sebuah prosesi. Simon pun menyelinap ke depan dan benar, dilihatnya ada prosesi para kriminal digiring ke tempat hukuman, ada 3 orang kriminal. Tidak ada seorang pun yang ingin dekat dekat dengan para kriminal ini. Para kriminal ini diejek, diludahi dan dipukul. Simon tidak ingin terlibat di dalam prosesi ini, tetapi tiba-tiba saja salah satu dari kriminal ini jatuh tepat di depannya, orang tersebut yang tidak lain adalah Yesus.

Simon berusaha untuk mundur dari Yesus, tetapi sebelum dia dapat berreaksi, lengannya sudah keburu ditarik oleh seorang tentara dan disuruh memikul salib Yesus. Tentara Romawi pada waktu itu berhak menyuruh orang lain untuk membawa sesuatu sejauh satu mil. Simon tidak ada pilihan lain kecuali memikul salib itu.

Simon yang menikmati ‘Bucket List’ nya ini sebagai Journey of a life time malah mengalami Journey to Hell. Entah cuman satu palang atau dengan 2 palang, jelas salib ini cukup berat. Selain berat, salibnya juga penuh dengan darah Yesus. Darah ini tentunya akan nempel ke Simon dan membuat Simon menjadi tidak tahir sehingga ia tidak boleh masuk ke Bait Allah, apalagi untuk mempersembahkan korban. Semua rencana Simon jadi berantakan.

Mungkin kita melihat Simon ini ketiban sial dengan harus memikul salib Yesus, tetapi ada 5 hal yang salib lakukan pada Simon orang Kirene ini yaitu:

  1. Salib membawa Simon kepada Yesus.
    Setiap orang mencari arti hidup, ada yang mencari melalui pleasure, power, kekayaan atau prestasi, bahkan aktivitas agama. Tetapi kita tidak akan temukan arti hidup di dalam semuanya itu. Sebab arti hidup ini hanya ada di dalam Dia.
    Simon juga sedang mencari arti hidupnya. Dia pergi dari kota asalnya jauh-jauh ke Yerusalem ingin mempersembahkan korban untuk mencari ‘favor’ Tuhan. Kelihatannya bukan berkat yang dia dapatkan, malah ‘ketiban sial’. Dia harus menunggu minimal seminggu untuk menjadi tahir lagi.
    Tetapi sesungguhnya apa yang terjadi justru membawa Simon ke sesuatu yang jauh lebih berharga. Salib membawa Simon kepada Yesus, yang adalah Hidup. Bahkan dia tidak perlu lagi mempersembahkan korban, sebab Yesus lah Anak Domba Allah yang disembelih untuk menebus dosanya ‘once and for all’.
  2. Salib menuntun Simon berjalan pada footstep Yesus.
    Ketika disuruh oleh tentara untuk memikul salib Yesus, Simon tidak bisa seenaknya jalan sendiri. Dia harus mengikuti Yesus kemanapun Yesus pergi, tepat di belakangnya Yesus. Luar biasa sekali, Salib tidak hanya memberikan Hidup tetapi juga arti/tujuan hidup dengan menuntun Simon untuk berjalan di footstep of Yesus.
  3. Salib memampukan Simon untuk melakukan apa yang Yesus dan orang lain tidak bisa lakukan.
    Yesus pada waktu itu sudah sangat lelah dan lemah, at the lowest point of His life. Sudah dua malam tidak tidur, stress dengan tuduhan-tuduhan dan ejekan, Dia juga ditinggal oleh murid-muridnya, bahkan yang paling berani sekalipun menyangkal Dia. Dipukuli dan dicambuk, dipakaikan mahkota duri, darahpun mengalir dari kepala, badan, tangan dan kaki Nya. Yesus tidak sanggup lagi memikul salibnya.
    Dengan memikul salib Yesus, Simon melakukan apa yang tidak dapat Yesus lakukan. Hal ini tidak berarti bahwa Simon lebih kuat dan hebat dari Yesus. Tetapi ada hal-hal yang Yesus tidak mau/akan lakukan dan Dia ingin kita yang melakukannya, seperti Amanat AgungNya, dimana kita diperintahkan untuk pergi dan jadikan semua bangsa muridNya.
    Seringkali kita justru berdoa: ‘Tuhan jadikan teman ini muridmu’, siapa yang beri perintah ke siapa?
    Diantara begitu banyak orang di dekat Simon pada waktu itu, Simonlah yang ‘dipilih’. Orang lain tidak bisa melakukan apa yang Simon lakukan: memikul salib Yesus. Mungkin buat kita hal ini sesuatu yang buruk, tetapi ini adalah sebuah privilege, sebab tidak semua orang dapat melakukannya.
  4. Salib merubah total hidup Simon dan bahkan seluruh keluarganya.
    Simon ke Yerusalem tidak hanya mendapatkan pengampunan dosa tetapi bahkan mendapatkan hidup yang baru. Pengampunan dosa hanyalah awal dari keselamatan itu. Keselamatan yang sesungguhnya adalah hidup yang baru di dalam kerajaan Allah. Yesus memberitakan bukan Injil keselamatan tetapi Injil kerajaan Allah.
    Di dalam Kisah Rasul 13:1, kemungkinan besar Simeon orang Niger yang ditulis di sini adalah Simon orang Kirene. Kita melihat bagaimana berubahnya hidup Simon sehingga membawa dia ke Anthiokia menjadi nabi dan pengajar.
    Ketika perayaan Paskah selesai, Simonpun balik ke Kirene dan keluarganya yang melihat perubahan hidup Simon ikut diselamatkan. Salib merubah total hidup Simon dan juga keluarganya.
    Injil Markus yang ditulis untuk orang-orang Roma dalam pasal 15:21 mencatat nama anak-anak Simon, yaitu Aleksander dan Rufus. Nama Rufus juga muncul di dalam kitab di Roma pasal 16:13. Rufus yang ada di dalam kitab Roma adalah orang yang sama dengan Rufus anaknya Simon, yang hidupnya telah berubah dan melayani sampai ke Roma.
  5. Salib membuat Simon menjadi bagian dari karya terbesar Allah yaitu keselamatan umat manusia.
    Simon yang memikul salib Yesus walau hanya beberapa saat dan kelihatannya tidak berarti, tetapi Simon masuk dalam catatan buku Tuhan. Small thing tetapi dicatat oleh tiga Injil sebagai History Maker.

Jangan kaget kalau tiba2 saudara ketiban salib out of nowhere, bahkan bukan salib kita sendiri tetapi salibnya orang lain. Meski tidak kita harapkan, tetapi itu bisa terjadi di dalam hidup kita. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita respon dengan salib tersebut? Kita bisa saja menolak, dengan kabur atau lari. Simon tidak melarikan diri tetapi justru membiarkan membiarkan salib melakukan kelima hal diatas didalam hidupnya.
The question is bagaimana Saudara mau meresponi salib ini?

Comments are closed.