Rangkuman khotbah 18 Oktober 2015

2 Timotius 4:5 “Tetapi kusailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanglah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!”

Kita cenderung untuk menguasai orang, kenapa? Nah saudara, Norwegia adalah sebuah Negara paling utara di Eropa dan mempunyai iklim musim dingin yang ekstrim. Di puncak dingin, matahari bisa bersinar hanya beberapa jam. Selama musim dingin yang lebih panjang dari Negara Negara Eropa lainnya. Luar biasanya, mereka tidak terlalu peduli dengan cuaca buruk. Mereka ada pepatah “There is no such thing as bad weather, just bad clothing”.

Maksudnya, cuaca tidak akan pernah menjadi masalah selama kita bisa menyesuaikan diri dalam berpakaian. Belajar dari pepatah di atas, kita bisa katakana tidak ada masalah yang buruk, yang ada hanyalah respons yang buruk. Cuaca yang buruk tidak dapat dihindari, demikian juga manusia tidak bisa lari dari masalah.

Masalah seringkali bukan masalah itu sendiri tetapi seringkali sikap kita yang menjadi masalah kita. Justru sikap kita yang bikin masalah makin sulit. Apa kita membiarkan masalah itu menguasai kita atau kita bisa memberikan respon yang benar.

Umpamanya naik kapal laut di tengah samudra. Air dan ombak yang begitu banyak tidak bisa membuat kapal itu tenggelam. Satu hal yang bisa membuat kapal itu tenggelam yaitu jika kita membiarkan air itu masuk.

Demikian juga masalah, akan menghancurkan kita begitu kita membiarkan masalah itu masuk ke dalam hidup kita. The worst daya in your life could be the best day. Karena justru melalui the worst thing kita terbuka matanya.

Bagaimana kita meresponi masalah kita akan sangat penting sekali. Ada beda yang sangat besar antara respon dan reaksi. Tubuh kita mempunyai 2 respon dengan obat untuk memyembuhkan penyakit. Tubuh kita bisa reaksi kalau ngga cocok obatnya, tetapi merespon kalau cocok obatnya.

Reaksi

Respon

 

Maralah adalah seorang perempuan yang ditembak oleh Taliban di Afghanistan kerena dia memperjuangkan persamaan hak wanita dalam mendapatkan pendidikan. Umur 14 tahun, dia memikirkan bagaiman cara dia meresponsi teroris. Dia bisa saja ambil kayu atau sepatu untuk memukul mereka, tetapi tidak ada bedanya dengan teroris itu sendiri.

Dia berpikir respon lain yang lebih baik. Akhirnya dia memutuskan untuk bilang ‘Tembaklah saya, tetapi dengarlah dulu apa yang ingin saya katakan baru boleh tembak saya.” Dia melatih dan melatih hal ini dan kira kira begini perkataanya: “Saya tidak salah terhadap kamu tetapi saya sedang memperjuangkan pendidikan untuk putrimu, istrimu, kakakmu”

Alkitab mengatakan kepada kita untuk mengontrol diri kita sendiri.

Dalam kata Yunani, kuasailah dirimu adalah Nay-Fo: To abstain from wine, to sober.

Berkuasa itu tujuannya belajar untuk menguasai diri sendiri. To discreet, berhati hati.

John Marwell mempunyai seorang istri yang bernama Margaret. Margaret menjadi pembicara di salah satu seminar tentang kebahagian dengan John duduk di depan. Sesi berjalan dengan baik dan di akhir ada sesi tanya jawab. Ada seorang ibu menanyakan “Mrs. Margaret, apakah suami anda membuat anda bahagia?” Suatu pertanyaan yang membuat ruangan terdiam dan Margaret menjawab setelah terdiam sejenak. Katanya tidak dan seluruh hadirin terkejut. “Tidak, John Maxwell tidak bisa membuat saya bahagia. “ Lanjutnya, “John seorang suami yang baik dan tidak pemabuk dan setia, tetapi dia tidak bisa membuatku bahagia. Why? Karena tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia, selain dirimu sendiri dan itu adalah tangggung jawabmu.”

Alkitab tidak katakana kuasai keadaan yang ada atau orang lain tetapi diri kita sendiri. Dalam ayat Alkitab di atas, dalam bahasa Indonesia ‘sabarlah menderita’ kurang tepat tetapi to endure afflictions and hardship.

Begitu juga dalam pekerjaan pemberita Injil, kita seringkali takut akan reaksi orang yang kita injili. Tetapi pikirkanlah respon kita akan kebutuhan dunia ini akan keselamatan. Dengan penguasaan dalam segala hal, kita tidak akan takut akan reaksi dan kata kata orang.

“Dan tunaikanlah tugas pelayananmu” Dengan penguasaan diri, kita bisa lakukan tugas kita sebaik baiknya. Kenapa? Supaya kita tidak iri dengan hasil pelayanan orang lain dan tidak akan efektif.

Ada satu lagi guna menguasai diri sendiri yang tidak dicatat di dalam ayat ini tetapi di 1 Petrus 4:7 yaitu supaya kita dapat berdoa. Walaupun tidak di catat di dalam surat Paulus, kita tahu bahwa Paulus berdoa dengan tekun.

Sama seperti burung gagak yang mengganggu burung rajawali. Ada gagak2 dalam hidup kita. Nah apa yang dilakukan burung rajawali ini? Dia tinggal merentangkan sayapnya besar dan dia akan terbang tinggi sampai burug gagak tidak tahan lagi dengan ketinggiannya. Kita perlu naik terbang tinggi dengan Dia sampai gagak gagak dalam hidup kita jatuh.

Comments are closed.