Discipleship

Rangkuman Khotbah 31/05/15

Minggu lalu kita belajar bagaimana jika kita speak the same language, tidak ada yang tidak bisa dilakukan. Bagaimana kita berbicara satu bahasa seperti yang Tuhan perintahkan kepada kita.

Gereja kita sekarang dalam masa transisi, oleh karena itu kita mau belajar the same language ini. Apa yang menjadi perintah Tuhan. Di dalam Matius 28:19, kita sudah kenal ayat ini dengan baik tetapi sering kita misinterpret artinya.

Bagian pertama dan terakhir dari perintah agung ini cukup dimengerti oleh banyak orang. Pertama, kata ‘pergilah’, kita bisa menyerap kata ini. Kita memang harus keluar untuk mencari jiwa dengan gereja gereja membuka cabang.

Perintah bagian ketiga yaitu baptislah dalam nama Bapa , Anak dan Roh Kudus. Tetapi sayangnya bagian yang ke dua di tengah tengah, dimana adalah bagian terpenting dari amanat agung ini sering disalah artikan, yaitu jadikan semua bangsa muridKu.

Yang dilakukan oleh banyak orang Kristen bukan menjadikan bangsa muridKu, yang mereka lakukan adalah menjadi anggota gerejaku. Kenapa begitu? Karena seperti yang sudah saya bilang di minggu lalu, manusia mencari nama, dan alasan satunya lagi adalah lest we scattered.

Amanat agung bukan buat converts tetapi make disciples. Gereja sistem pagar mengundang semua orang untuk masuk ke dalam gereja mereka supaya aman. Banyak gereja bukannya melakukan great commission tetapi great omission.

Memang kita semua harus bertobat tetapi pertobatan bukan akhir tetapi awal. Banyak gereja berpikir bertobat saja sudah selesai, masuk ke dalam pagar dan aman. Tetapi it’s not the end.

Apa bedanya disciple sama converts? Perbedaannya ada di gambar bawah ini:

Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Jerman, anak ke 7 dari 8 dan ayahnya seorang phycologist. Ibunya seorang guru, cucu dari Carl Voltase, teolog terkenal dari Jerman, Singkat kata keluarga Bonhoeffer adalah keluar terhormat. Umur 21 dia sudah lulus dari sekolah teologi Berlin dengan nilai paling tinggi. Dia ambil 2 tahun lagi sekolah untuk mendapatkan professor doctor.

Karena umurnya yang masih muda, dia tidak bisa ditahbiskan sebagai pendeta sehingga dia mengelilingi Amerika selama setahun. Pada tahun 1933 Hitler berkuasa di Jerman dengan otoriter penuh dan ditentang oleh Dietrich. Dietrich mengorganisasi demonstrasi kepada pemerintah atau penganiayaan orang Yahudi tetapi sayangnya tidak banyak gereja yang mendukung dia. Hitler mulai menindas orang orang Gereja yang menentang dia termasuk Dietrich.

Dia pun mendirikan seminary underground dan akhirnya dibubarkan oleh Hitler dan Dietrich ditangkap. Dia pun menulis buku The Cost of Discipleship yang merupakan buku pegangan sampai sekarang.

Tahun 1941 dia bergabung dengan Apwer dan merencanakan kudeta dan asasinasi Hilter. April 1943 Dietrich ditangkap dan ditahan sampai 8 April 1945 dan diadili oleh hakim Nazi dan dihukum mati dengan digantung mati telanjang.

Tragisnya tentara Sekutu membebaskan Jerman tiga minggu kemudian. Dietrich bisa saja kabur dari penjara selama dia ditahan, tetapi dia tidak mau.

Student dan disciple adalah beda. Student tinggal bayar dan daftar terus jadi murid. Menjadi disciple tidak hanya informed tetapi transformed.

Waktu di SenZhen, saya kenal seorang Indonesia yang adalah keturunan Chinese yang kembali dari Indonesia di tahun 1960an. Jadi masih ada koneksi dengan orang Indonesia dan mempunyai hari untuk orang Indonesia.

Dia bertobat 13 tahun yang lalu dan tadinya dia adalah seorang businessman yang supply barang barang hotel. Dia tadinya mempunyai visi untuk mempunyai rumah di setiap propinsi, tetapi Tuhan tangkap dia dan dia bertobat. Dia tinggalkan bisnisnya dan mengikuti seorang hamba Tuhan.

Dia sangat mendukung hamba Tuhan dan support hamba Tuhan financially. Tetapi oleh hamba Tuhan ini, terjadi satu kejadian yang menyedihkan yang menyebabkan bisnis dia jatuh dan habis.

Dia cari bantuan ke iparnya dan minta pekerjaan dengan syarat asal dia tinggalkan Tuhan, tidak berdoa dan baca alkitab. Dia kecewa besar dan dia begumul. Akhirnya dia putuskan untuk tinggalkan Tuhan. Iparnya pun memberikan fasilitas macam macam.

Tetapi dia tidak tenang dan suara Tuhan tetap mengusik dia. Setelah setahun bekerja dengan iparnya, dia minta berhenti dengan alasan untuk ikut Tuhan lagi. Iparnya minta kembali semua fasilitas yang sudah dia dapatkan dari iparnya. Dia kembalikan semuanya ke iparya.

Dia hanya bisa menyewa apartemen one bedroom dengan akibat anak perempuannya yang sudah remaja jadi bermasalah. Akhirnya dia mendapatkan apartemen 2 bedroom yang dia pakai untuk menjadi tempat kebaktian.

Karena hatinya untuk orang Indonesia, dia belajar bahasa Indonesia. Saya contact dengan dia menggunakan WhatsApp. Tetapi balasnya lama sekali, ternyata dia tidak bisa mengenal abjad. Ternyata dia harus mencari orang untuk menerjemahkannya. Hebatnya dia berani menjadi penerjemah buat saya. Di situlah saya melihat semangatnya dan how desperate nya dia untuk mengikuti Tuhan.

Pak Damaris pernah berkata kita belum menjadi orang Kristen kalau kita tidak gila untuk Yesus.

Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *