What about Fairness?

Matius 20:1-19 by: Lukman Setiawan

Pada tahun 2004, Shannon Noll, runner up dari Australian Idol I, melepaskan album pedananya yang langsung menjadi hit besar di Australia. Lagu yang berjudul “WHAT ABOUT ME?” inipun menjadi salah satu ‘shower song’ favourite banyak orang. Berikut cuplikan lyric nya.

Well there’s a little boy waiting at the counter of the corner shop.

He’s been waiting down there, waiting half the day, they never see him from the top.

He gets pushed around, knocked to the ground. He gets to his feet and he says…

Apa next line dari lagu ini?

“WHAT ABOUT ME?

IT ISN’T FAIR,

I’ve had enough, now I want my share can’t you see, ….

WHAT ABOUT ME?”

Lagu ini bercerita tentang seseorang yang marah karena hidup nya tidak fair/adil. Besar kemungkinannya kalau lagu ini menjadi top hit karena banyak orang yang merasa bahwa hidup ini tidak adil.

Kalau kita baca di berita, setiap hari orang diseluruh dunia banyak yang protes mengenai ketidakadilan pemerintah baik Melbourne, Jakarta, ataupun di negara lainnya. Faktanya adalah banyak sekali orang yang merasa tidak puas dengan keadilan dunia ini. Manusia benar-benar makhluk yang gampang sekali cemburu. Kita merasa tidak adil ketika teman kita yang malas mendapat nilai yang bagus, atau saudara yang lebih sukses dalam hidup, orang lain terlihat lebih bahagia, dan sebagainya.

Dalam Matius 20:1-19, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang Kerajaan Sorga yang diberitakan kepada dunia. Diakhir pasal ke 19, Yesus mengatakan sesuatu yang membingungkan banyak pendengarnya, “tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu”. (Matius 19:30) oleh sebab itu Yesus mengajarkan lebih lanjut dalam sebuah perumpamaan.

Perumpamaan ini dumulai dengan seorang tuan yang mencari perkerja kebun anggur dan dia menemukan sekelompok orang untuk beerja dalam kebun anggurnya mulai ini hari (sekitar jam 6 pagi), dan mereka setuju diupah 1 dinar. Pada zaman itu 1 hari kerja adalah 12 jam. Dalam ayat 3-5, tuan rumah ini keluar dan mengundang orang lagi pada pukul 9 pagi, pukul 12 siang dan pukul 3 siang. Kalau kita simak di ayat ke 4 tuan ini menawarkan upah “pantas” bagi semua orang, namun mereka tidak diberi tahu berapa jumlahnya. Dan untuk terakhir kalinya pada pukul 5 sore, tuan ini pun mengundang sekelompok orang lagi.

Pada ayat 8, tuan rumah ini mengundang kelompok orang yang masuk terakhir untuk menerima upah mereka terlebih dahulu. Mereka mendapat 1 dinar, upah 12 jam berkerja untuk pekerjaan 1 jam. Pasti orang-orang selanjutnya yang menunggu untuk menerima upah merasa senang. Mungkin dalam pikiran mereka “WOW mereka bekerja 1 jam saja dapat 1 dinar, saya yang bekerja 12 jam pasti setidaknya mendapat 12 dinar”. Namun yang mengejutkan adalah, mereka mendapat 1 dinar juga. Dapat dibayangkan betapa pekerja ini mulai bersungut-sungut. “Aku udah bekerja 12 jam mereka cuma bekerja 1 jam, aku lebih cape, lebih menderita, seharusnya aku berhak mendapat lebih”. Seperti lagu Shannon Noll diatas, “WHAT ABOUT ME? IT ISN’T FAIR, NOW I WANT MY SHARE!!”

Banyak dari kita yang sering merasa tidak puas dan tidak merasa tidak adil. Kita merasa bahwa orang lain lebih diberkati, kita tidak puas karena tidak memperoleh kesempatan seperti sesame kita. Kita mulai berteriak pada Tuhan, INI TIDAK ADIL! I DESERVE BETTER!

Kita tidak mengerti apakah itu keadilan di hadapan Tuhan dan kita berusaha mengukur keadilan tuhan dengan keadilan manusia yang sangat sempit dan terbatas. Pada ayat 13-15, tuan ini menjawab protes para pekerjanya bahwa dia berlaku adil karena persetujuan mereka untuk bekerja dengan upah 1 dinar. Bagi pemilik ini bukan masalah ADIL namun ini mengenai kemurahan hatinya. Kemurahan hati adalah member bagi mereka yang tidak layak mendapat, mereka yang jika tidak dipekerjakan akan menganggur. Kemurahan itu bukan keadilan dan tidak bisa diukur dengan keadilan. Kemurahan/Generosity selalu tertuju pada orang yang tidak layak memperolehnya.

Perumpamaan ini mengajarkan kita bahwa dalam Kerajaan Sorga, kita semua memperoleh kemurahan Tuhan yang tidak layak untuk kita terima. Kita ini seperti pekerja yang hanya bekerja 1 jam namun memperoleh kelimpahan. Jika kita terus bersungut-sungut kepada tuan dan tak puas dengan orang lain, kita ini sama dengan orang yang bersungut-sungut kepada tuan dengan meminta apa yang layak kita dapatkan. Namun apakah yang layak kita dapatkan? Alkitab tak pernah lebih jelas mengenai apa yang layak kita dapatkan. Kita orang berdosa LAYAK ditolak Tuhan, LAYAK untuk mati (Roma 6:23), LAYAK untuk dihukum. Namun karena salib Kristus kita semua menerima kemurahan Tuhan. Tuhan mau mengajarkan bahwa dalam kerajaan Sorga kita semua hidup dalam kemurahan Tuan kita, oleh sebab itu marilah kita rajin bekerja dalam lading tuan kita tanpa bersungut-sungut. Jangan lupa status kita yang adalah orang terbelakan, orang tak layak, yang hidup dalam kemurahan Tuhan.

Categories: Articles