Thy Shall Not Kill

by: Lukman Setiawan

Ulangan 5:17, Mat 5: 21-25

Pada acts edisi Mei ini kita akan lebih lanjut membahas mengenai 10 perintah Allah, focus kita terletak pada perintah keenam, jangan membunuh.

Jika kita membaca perintah ini banyak dari kita berpikir, ini perintah sangat jelas, dan sangat sederhana. Pada umumnya pemerintah serta masyarakat internasional menjunjung tinggi harga nyawa manusia dan perbuatan orang yang membantai manusia adalah perbuatan tidak bermoral dan patut dihukum.

Hal itu benar, tapi bagaimana kita yang hidup dilingkungan yang secara relative tak terjadi pembunuhan dapat mengaplikasikan firman ini?

Pertama saya ingin memfokuskan bahwa firman ini tidak berkata “jangan membunuh manusia”, tapi hanya sebatas “jangan membunuh”. Apakah firman ini meminta kita semua menjadi vegan dan tidak membunuh hewan? Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan memberikan hewan sebagai makanan manusia dan Tuhan mengunakan hewan sebagai korban bakaran, jadi bukan kita tak boleh membunuh hewan. Anehnya lagi, setelah perintah ini diberikan, waktu bangsa Israel menduduki tanah Kanaan, berapa manusia yang terbunuh dalam peristiwa ini? Jadi apa maksud dari perintah Tuhan ini?

Membunuh di ayat ini berasal dari kata ibrani ratsach yang dalam bahasa Inggris adalah “murder” atau membunuh dengan penuh kebencian dan membunuh dengan direncanakan juga dapat dikategorikan dalam ratsach ini. Ada beberapa aplikasi dari ayat ini yang akan di bahas di artikel ini. Pertama, rasa benci dan kepahitan kita. Dalam kita Matius 5:21-25, jelas sekali dijabarkan bahwa memang benar perintah jangan membunuh, namuh kalau dalam hati kita ada bibit kebencian terhadap sesame kita, lebih baik kita menyelesaikan bibit kebencian ini. Karena seberapa kecil pun kebencian atau kesebalan yang ada dihati kita, jika dibiarkan terus, bibit ini akan bertumbuh dan akan menghalangi hubungan kita dengan Tuhan. Rasa benci yang tertumpuk akan meledak dan kebanyakan dari kita tidak dapat mengontrol rasa benci ini dan cepat atau lambat rasa benci ini akan menghancurkan kita dan sesama kita. Tuhan mau kita melepaskan rasa benci ini dan belajar untuk mengasihi sesama kita.

Kedua, membunuh dengan menyesatkan. Membunuh disini juga mencakup tindakan kita yang menyesatkan. Yesus sangat marah terhadap orang Farisi, karena semua ajaran dan hokum orang Farisi membuat orang sangat sulit untuk mendekat pada Tuhan. Jika tindakan kita membuat orang semakin jauh terhadap Tuahan, secara tidak langsung kita telah menyesatkan sesame kita, dan kita telah melanggar perintah keenam ini. Dan jika kita cuek atau diam-diam saja dan tidak pernah berusaha mengajak orang yang kita kenal untuk mengenal Tuhan, dengan diajak kegereja atau diinjili secara tidak langsung kita telah menyesatkan orang itu.

Bayangkan kalau ada orang tersesat dijalan dan bertanya pada kita, namun kita diam saja, walau kita tahu jalan yang benar, apakah kita sama saja dengan menyesatkan orang itu? Jadi jika kita dengan niat kita, baik itu menyesatkan atau cuek, membawa orang semakin jauh dari pada Tuhan kita bertanggung jawab terhadap kematian rohani orang tersebut, kita telah membunuh orang tersebut.

Ketiga, membunuh dengan memadamkan. Membunuh disini juga mencakup tindakan kita yang memadamkan semangat sesama kita dalam melayani Tuhan. Saat kita sadar sesama kita rajin dalam melayani dan bersemangat, jika sikap kita tidak membangun dengan malas-malasan serta tak ada semangat, secara tak langsung sikap kita pasti mempengaruhi sesama kita dan sering ini memadamkan semangat yang ada. Kalau kita mau kita bisa ikut ambil bagian, tapi kita menolak, kita telah jatuh dengan melangar perintah ini.

Marilah bersama kita mematuhi perintah ini dengan mengasihi sesame kita dan mengasihi diri kita sendiri dan terus bertumbuh dalam Tuhan melalui pimpinan Roh Kudus dengan melayani di GerejaNya.

Categories: Articles