Suffering

by: Alicia Tani (2004)

Penyanderaan di Beslan, memakan korban ratusan jiwa, kebanyakan anak-anak…

Pemboman di depan kedubes Australia di Jakarta, seorang anak kecil sekarat…

Pembunuhan sandera-sandera di Irak…

Hurricane di Florida, Cuba…meninggal…menderita…

Kelaparan di Sudan…korban…

Meninggalnya orang-orang yang kita kasihi…

 

Hari-hari di bulan September lalu penuh dengan berita buruk. Malapetaka dan bencana alam dimana-mana. Korban berjatuhan, baik luka ringan, berat, maupun meninggal. Penderitaan sakit gigi saya yang tadinya terasa demikian besar menjadi tak berarti dibanding dengan apa yang mereka alami.

Mengapa penderitaan harus terjadi di dunia ini? Bahkan, mengapa yang menjadi korban justru mereka yang lemah seperti anak-anak dan rakyat jelata? Seperti Friedrich Nietzsche katakana: “It is not so much the suffering as the senselessness of it that is unendurable.” Respon pertama kita saat mendengar sebuah tragedi adalah: “Kenapa?” Kita piker kalau kita bisa menemukan jawabannya, penderitaan itu akan lebih tertanggungkan.

Tapi sayangnya tidak ada yang tahu jawabannya. Orang hanya bisa menduga. Dua dugaan yang salah adalah:

– Penderitaan berasal dari Tuhan untuk menguji kita. Ini kelihatannya benar, tapi sebenarnya tidak benar. Tuhan tidak pernah merancang penderitaan bagi manusia. Yeremia 29:11 berkata: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Jadi jelas penderitaan, kecelakaan, malapetaka, dan sakit penyakit bukanlak berasal dari Dia.

– Penderitaan adalah hukum Tuhan atas dosa manusia. Didalam Perjanjian Lama kita melihat Tuhan banyak kali menghukum bangsa Israel. Tapi kalau kita perhatikan, sebelum menghukum Dia selalu memberikan peringatan dan terguran berkali-kali. Saat hukuman terjadi, orang yang bersangkutan selalu tahu apa sebabnya dan apa kesalahannya. Hukuman Tuhan tidaklah ‘senseless’. Apalagi setelah Tuhan Yesus menebus dosa kita, kalau kita percaya dan menerima Dia sebagai Juruselamat, hukuman tidak lagi menimpa kita.

Penderitaan yang terjadi di dalam dunia ini adalah dikarenakan dosa yang masuk ke dalam dunia melalui kejatuhan Adam dan Hawa. Penderitaan ada karena dosa, dosa manusia. Manusia menjadi dikuasai oleh berbagai-bagai keingina jahat dan merusak. Karena keserakahan manusia likunganpun banyak dirusak, sehingga terjadi macam-macam bencana alam.

Penderitaan juga bisa berasal dari jahat. Iblis dengan segala tipu dayanya merancang segala sesuatu yang jahat untuk merusak hidup manusia.

Tanpa mengecilkan arti penderitaan dan perasaan orang-orang yang mengalaminya, saya melihat ada hal-hal positif yang terjadi melalui hal ini:

– Penderitaan menyadarkan manusia akan kefanaanya atau keterbatasannya dan membuat orang mencari sesuatu diluar dirinya sendiri. Mereka menjadi lebih terbuka terhadap Injil.

– Mereka yang menderita lebih menghargai manusia daripada hal-hal materi yang tidak bisa menolongnya.

– Mereka yang menderita tidak lagi menganggap dirinya hebat. Penderitaan membuat orang rendah hati.

– Orang yang sudah mengalami penderitaan tidak lagi senang bersaing, tapi lebih gampang diajak bekerja sama.

– Penderitaan melatih kesabaran.

Seorang teman saya yang mengalami kanker payudara sepuluh tahun yang lalu menjadi seorang yang sungguh rendah hati, senang berdoa untuk orang lain dan jarang membicarakan tentang dirinya sendiri. Beberapa bulan yang lalu kanker tersebut kembali dan menyebar ke bagian-bagian tubuhnya yang lain. Tapi satu hal yang dia katakana yang sungguh menyentuh hati saya adalah: “yang terpenting dalam hidup ini adlah hubungan saya dengan Tuhan Yesus, karena itulah yang last forever. All other things are just shadows passing by…”

 

Jikalau saat ini kita belum pernah mengalami penderitaan, bagaimanakah respon kita dalam menanggapi penderitaan di sekitar kita? Apakah kita punya sikap: ‘Yang penting gua selamat’? Atau kita bersaksi tentang kasih Tuhan yang begitu besar terhadap kita sehingga kita terhindar dari bom di Kedubes, padahal kita hampir saja pergi kesana hari itu? Lalu bagaimana dengan orang-orang yang kena bom dan meninggal, apakah Tuhan tidak cinta mereka?

Biarlah kita belajar untuk lebih sensitif didalam meresponi penderitaan yang terjadi didalam dunia ini. Memang kita perlu menghargai apa yang ada pada kita, apa yang Tuhan berikan kepada kita: hidup, kesehatan, keselamatan, pakaian, makanan. Kita perlu mensyukuri semua itu. Tapi Alkitab katakan di dalam Roma 12:15: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”

Categories: Articles