Rangkuman khotbah 15 November 2015

2 Timotius 4 : 9-21

Banyak sekali pelajaran yang Paulus berikan sebagai pesan pesan terakhirnya dan dia berbicara tentang orang orang dengan menyebutkan nama nama. Ada 17 nama dan terakhir semua saudara. Dia tidak berbicara tentang doktrin doktrin sebagaimana biasanya.

Kita tidak akan melihat satu persatu nama di atas tetapi kita ingin belajar sesuatu dari bagian terakhir suratnya ini.

  1. People are in his mind
    People must be in our mind, bukan materi, uang, program, persoalan atau makanan.
  1. Meskipun Paulus begitu hebat, dia menyatakan bahwa hidupnya pun bergantung pada orang lain. Paulus mengajar kita untuk membangun network. Kata network ini bukan ciptaan dunia tetapi sudah ada sejak dulu. Kita harus hidup di dalam sebuah komunitas.
    Tahun 1960an ada film seri the Lone Ranger dimana jagoannya seolah olah dia bertindak sendirian. The Lone Ranger ini punya teman Indian yang dia butuhkan.
    Tuhan kita bukanlah Allah yang sendirian tetapi Allah yang TriTunggal. Mereka ini ada satu kesatuan yang tidak ada awal dan tidak ada akhir dan mereka sama tetapi mempunyai fungsi yang berbeda. Inilah yang disebut komunitas tritunggal. Sehingga kalau kita diciptakan sesuai dengan rupa dia, jelas sekali kita tidak diciptakan sebagai Lone Ranger tetapi sebagai bagian dari sebuah komunitas.
    Tugas kita di dunia ini bukan hanya untuk membentuk gereja tetapi membangun komunitas. Kata gereja di dalam Alkitab berbeda pengertiannya dalam bahasa sehari hari. Alkitab tidak berbicara tentang gedung, tetapi tentang orang, komunitas.
    Ada beberapa hal tentang komunitas yang ingin saya ajak liat.
    Kita lihat ada banyak komunitas di dunia ini, baik businessman, pecinta anjing, bikers, macam macam. Komunitas seperti apa yang kita inginkan? Yang bagaimana? Jelas sekali kita bukan closed community, yang terbuka tetapi perlukan sebuah indentitas yang bisa offer something different. Yang memakai model Tuhan Tritunggal yang mencerminkan seperti apa Tuhan Tritunggal itu.
    Sebuah komunitas itu adalah sebuah grace, anugrah. Kita sering membuat program supaya sebuah komunitas terbentuk tetapi cenderung akan gagal. Komunitas yang sesungguhnya adalah yang Tuhan bentuk.
    Yesus sendiri berkata, dua atau tiga orang berkumpul di dalam namaKu. Diluar dari Tuhan, kita hanyalah kelompok atau club yang tertarik secara fisik apa yang kelihatan. Kelompok ini tidak akan bertahan lama. Oleh sebabnya komunitas di sini adalah sebuah grace.
  1. Meskipun sebuah grace, kita tetap mesti pay the price. Ironis? Memang free tapi costly. Sama seperti keselamatan yang kita dapatkan secara gratis tetapi tidak murah. Memang Tuhan yang kumpulkan tetapi kita mesti pay the price supaya komunitas ini bisa bertumbuh. Komunitas ini sama seperti keselamatan. Apa harganya?
    1. Respect
      Komunitas tidak menghilangkan indentitas kita. Seperti Allah Tritunggal, mereka satu essence tetapi berbeda. Personalitas tetap ada, tidak hilang. Oleh sebabnya itu kita perlu respect each other.
    2. Privacy
      Kita harus give up privasi kita, ketika semua punya saya, saya dan saya. Bukan berarti tidak ada personal space, tetapi kita tidak lagi memisahkan us and them, we and their.
    3. Cover each other
      Dunia mengajarkan kita untuk mencari kelemahan. Komunitas yang sesungguhnya mengajarkan kita untuk cover each other, bukan berarti menutup dosa dan kesalahan yang lain tetapi kita cover dari elemen luar. Support each other dan selesaikan masalah secara internal.
    4. Share stories
      Sharing stories membuat kita konnek dengan each other, baik suka ataupun duka ceritanya.

 

  1. Komunitas perlu waktu untuk bertumbuh
    Baik secara alami ataupun naturisasi. Komunitas itu selalu progreasif dan keep growing.
    Pohon Redwood di Amerika yang tingginya sampai 30 meter itu, akarnya tidaklah dalam, bahkan dangkal dan terkadang di atas tetapi membentuk sebuah network akar. Mereka tidak berdiri sendiri.
    Kalau kita terikat dengan kuat di dalam sebuah komunitas, ketika ada persoalan, kita akan ada support dari yang lain.
    Landak mempunyai duri yang tajam dan mereka tinggal di dalam tanah. Singkat cerita, di musim dingin beberapa landak telat menggali lubang dan tanahnya keburu keras. Untuk mencegah dingin, mereka merapat satu sama lain sampai akhirnya duri duri ini menusuk teman temannya. Landak yang tidak tahan duri ini memisahkan diri dan mati keesokan harinya. Mereka yang bertahan, survived. Ibrani 10:25
    Walaupun banyak kejadian kejadian ngga enak, tetapi kita tetap stick to each other. To dwell above with saintsa we love. Oh that will be grace and joy. To live below with saints we know, well, that’s another story…
    Ayo kita bangun komunitas ini, bertempur bersama. Jangan jauhkan diri dan tinggal bersama. Saya percaya berkat Tuhan akan melimpah atas kita.

Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *