Perumpamaan Tentang Seorang Penabur

Matius 13:1-9, 18-23

Simone Weil, lahir di Paris dari keluarga berada, dan melayani pada perang dunia kedua. Quote terkenal dari adalah doa yang sederhana hanyalah sebuah attention.

Ada sebuah buku tentang sebuah film yang bernama Smoke, berbicara seorang penulis buku terkenal, Paul Benjamin yang istrinya meninggal karena kecelakaan. Paul ini punya kebiasaan datang ke sebuah tobacco shop untuk membeli cerutu. Terjadi pertemenan antara Paul dan pemilik toko cerutu, Augie. Suatu hari dia tergesa gesa ke toko cerutu dan pada hari itu dia baru notice bahwa ada sebuah kamera dan aktif dan diarahkan ke sebuah corner di jalan. Pemilik toko bilang setiap hari dia foto corner itu sebanyak 4000 foto dari tahun 1978.

Paul buka halaman foto itu satu itu persatu dan akhirnya dia tersenyum dan bilang ke Augie, “It is the same” Fotonya sama semua dan akhirnya dia hanya flip album tersebut dengan cepat. Augie bilang bahwa Paul terlalu cepat melihat foto foto itu. “Tetapi isinya sama saja” kata Cole. Toby bilang “Just slow down”. Dengan terpaksa Cole mulai melihat album foto itu dengan lebih focus dan pelan. Akhirnya dia berhenti di satu foto yang ada, foto Ellen, istrinya.

Toby berkata, “She has been in quite a few of those photos”. Harus diakui hidup berjalan dengan cepat. Sometimes kita miss out from day to day apa yang mau Tuhan kata kepada kita. Kita sering membaca firman Tuhan dengan terlalu cepat.

Pada hari ini kita ingin melihat perumpamaan tentang seorang penabur. Apa yang bisa kita pelajari dari perumpamaan ini. Yang paling sering kita dengar adalah tentang hati kita. Hati yang keras atau hati yang baik, tanah yang subur. Itulah yang kita pelajari selama ini, apakah respon kita ketika menerima Firman Tuhan.

Hati kita sebenarnya pernah menjadi tanah yang berbatu, tanah yang bersemak duri atau yang subur. Dalam cerita ini ada 3 karakter yang diceritakan Tuhan yaitu penabur, benih dan tanah.

Yesus mau untuk kita menggali lebih dalam cerita ini, apa sih yang sebenarnya ingin disampaikan Tuhan. Dia ingin memberikan apakah sebuah teguran atau warning. Yesus berkata, “Karena sekalipun mereka melihat mereka tidak melihat, sekalipun mereka mendengar tetappi mereka tidak mengerti”. Seperti Paul, dia melihat foto foto itu pada pertama kali, semuanya sama sampai ketika dia memberi attention.

Hendaklah kita mengerti, yaitu melihat dari sudut pandang yang tepat dan mendengar dari source yang tepat. Saya suka dengan fotography, satu hal yang menarik adalah satu obkek bisa dilihat dari semua sudut atau angle of view.  Tetapi tidak semua sudut memberikan hasil foto yang bagus. Begitu juga firman Tuhan, kita perlu melihat dari angle yang tepat.

Kalau kita melihat setting pada waktu itu, Yesus berbicara pada orang banyak. Di Kitab Lukas mencatat orang banyak itu datang berkumpul dari desa ke desa. Orang banyak mulai banyak mengikuti Yesus sejak Iamenyembuhkan orang sakit dan melakukan mujizat.

Tuhan itu kasih karunianya sangat melimpah. Walaupun orang banyak itu tidak mencari Yesus as a person rather than for the blessings tetap tabur benih ini. Walaupun Yesus sedang sedih karena mendengar Yohanes Pembaptis sudah dipenggal, tetapi karena orang banyak, dia tetap mau melayani orang banyak tersebut.

Senior farmer sowing seeds from a bucket

Banyak orang yang ingin menahan Yesus hanyak untuk diri mereka sendiri. Oleh karena itu Yesus ingin menyampaikan sesuatu lewat cerita penabur ini. Kata penabur dari bahasa Yunani ‘Speiro’ simply means menabur. Unuk menabur, si penabur harus keluar, tidak menabur di dalam.

the sower sowing the seed english school

Di gambar kedua, pada Israel jaman dulu, tempat yang ditabur itu jauh berbeda. Tanah pada waktu itu tidak ada patok patok batas yang jelas, hanya memakai patokan bangunan dan tanda tanda alami. Keadaan tanah pada waktu itu juga lebih seperti sebuah jalanan. Dan untuk apa kita menabur di tanah yang keras, berbatu dan bersemak duri?

the sower 2

Dalam gambar ketiga, Tuhan ingin berbicara bahwa dialah penabur dan ingin benihnya tersebar ke seluruh dunia. Harus diakui dunia ini lebih seperti tanah yang keras, berbatu dan bersemak. Jika tanahnya baik, mungkin Tuhan sudah datang untuk yang kedua kalinya. Penabur ini tidak bisa memilih tanahnya, tugas dia hanya menabur. Dan dia tidak segan segan menabur benihnya. Dimana ada kesempatan dan ada tanah, dia akan menabur. Inilah penabur yang Tuhan Yesus maksudkan.

Kita adalah penabur. Tahun ini kita lebih ingin keluar dan menjangkau keluar. Gereja lebih sukanya kumpul kumpul sampai kadang kita lupa bahwa kita harus menabur keluar. Benih di kantong pun jadi busuk. Kita seharusnya bukan bagian dari orang banyak tetapi adalah murid muridNya. Setiap dari kita punya patok patok batas tanah dari Tuhan untuk kita tabur dan kerjakan.

Kita semua punya patok patok batas dan akan Tuhan perluas. Darimana kita mulai? Kita semua punya teman teman kan? Entah di tempat kerja atau tempat gym. Kita seringkali ragu ragu ketika melihat tanah ladang kita jelek. I wish I can choose my own soil, tetapi sebenarnya tanah itu keras, berbatu dan bersemak. Just simply sow and sow generously.

Bagaimana kita lebih efektif membagikan benih benih ini ke orang orang di sekitar kita? Memang tidak mudah, karena keadaan tanahnya yang berbatu dan bersemak duri. Saya ada orang teman kerja, student dan di tahun terakhir sekolah dan mau apply PR. Bidang sekolah dia juga ngga umum, yaitu dunia perfilman. Saya teringat ketika saya masih student dan bekerja untuk orang lain ketika melihat dia. Saya sendiri berkata kalau saya menjadi dia, I can do better.

Suatu hari saya bertanya kepada dia “Dream kamu apa?”. Jawabnya “Saya mau menjadi orang berhasil di dunia perfilman bukan hanya di Indonesia tetapi di Holywood.” “Apa yang sudah kamu lakukan untuk pursue dream ini?” tanya saya. Dia menjawab hanya kerja dan mengumpulkan uang buat ke Amerika. Saya bilang,”Kamu jangan bekerja hanya untuk duit. Kalau orang yang berkerja hanya untuk uang, mindsetnya hanya kerja Monday to Friday for money”. There is something more.

Just simply kita harus aware memang tanah yang ada sulit, tetapi just sow generously. Yesus tetap sow walaupun tanah Dia keras seperti pada waktu menabur kepada orang orang Farisi. Again, tugas kita hanyalah menabur.

Cerita penabur ini intinya despite tanahnya jelek, kita harus tetap menabur. Saya yakin persediaan benih banyak sekali.

In conclusion, tanahnya memang keras tetapi tetap harus kita lakukan.

Rangkuman khotbah Arvin Atmadja pada tanggal 26 April 2015 

Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *