Khotbah 9 August 2015 by Arvin A.

Jadilah seperti anak kecil yang tidak mempunyai prejudice. Anak kecil sangat simple, they saw, they got excited and they then played.

Memang Tuhan ingin kita mempunyai attitude seperti itu. Mengikuti Yesus akan sangat mudah jika tidak ada penghalang yaitu kita sendiri.

Pagi ini marilah kita lihat 1 Korintus 3:10-17. Point pertama dari ayat 10 yaitu ahli bangunan atau arsitek mempunyai arti dalam bahasa Inggris yaitu Chief Constructor or Master Builder. Paulus berkata bahwa dia adalah seseorang yang ahli membangun dan itu bukan omong kosong. Secara profesi pun Paulus adalah seorang pembuat kemah.

Tetapi Paulus juga berbicara dalam ladangnya Tuhan dan membangun rumah Tuhan. Sudah banyak gereja yang Paulus bangun, he was a church planter. Paulus dalam hal ini menaruh dasar dalam setiap tempat termasuk gereja di Korintus. Gereja di Korintus boleh dibilang gereja dia dan dia sebagai foundernya.

Bahkan Paulus bilang bahwa dia bekerja dengan sangat keras dan pernah karam kapal dan digigit ular dan macam macam. Paulus mengakui bahwa selain ahli, dia juga cakap dalam mebangun bangunan. Dalam bahasa Inggris, cakap adalah wise atau hikmah. Dia adalah seseorang yang sangat terpelajar dan educated, murid dari guru besar Gamaliel.

Dia mengerti philosolphi  Yunani dan bisa berdebat dengan bahasa Yunani. Pada dasarnya, Paulus sangat ahli dan educated. Tetapi kita sebagai orang Indonesia biasanya malu dan tidak mau mengakui keahlian kita sendiri.

Gereja adalah milik Kristus, bukan milik Paulus. Sekarang ini banyak yang terbalik dan gereja diklaim milik pendeta. Padahal dibilang bahwa Kristus adalah kepala dari Gereja. Paulus tetap mengandalkan Tuhan at the end of the day. Because of His Grace, I made he foundation.

Paulus menganjurkan kita untuk hidup di dalam kasih karunia Tuhan supaya kasih itu tidak sia sia.

Tidak salah jika kita ingin melakukan sesuatu untuk Tuhan, tetapi buat Paulus adalah mengenal Dia, melakukan apa yang Dia inginkan dan menjadi serupa dengan Dia.

Tanpa Tuhan kita tidak bisa, tetapi tanpa kita, Tuhan tidak mau. It is a privilege to serve Him. Tetapi ada orang yang tidak mau kita layani walaupun kita tahu bahwa dia butuh. Seperti diundang makan, tidak semua orang diundang makan dan adalah privilege jika kita diundang.

The strength of the team is in its member, the strength of each member is in the team.

Setiap dari kita mempunyai strength di dalam satu gereja. Yesus make a team and its member yaitu rasul rasulnya dan begitu Dia diangkat ke surga, kita lihat bagaimana rasul2 nya dan Paulus bekerja as a team.

Comments are closed.