Penyembahan yang Benar

“….; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.” Yohanes 4:23

Karena Allah-lah maka penyembahan (worship) ada. Allah itu Roh dan menginginkan penyembahan dalam roh dari manusia rohani.  Waktu Yesus berkata: “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahnya dalam roh dan kebenaran.” (Yohanes 4:24), Dia menutup perlunya diskusi dan perdebatan tentang penyembahan. Tidak ada pilihan! Memang, anda dapat memilih apa yang anda sembah: uang, ambisi, kekuasaan, kedudukan, kehidupan bebas, atau apa saja, tetapi saat Allah Bapa menjadi objek penyembahan, kita tidak punya opsi bagaimana cara menyembah Dia. Kita harus menyembah Dia dengan cara yang Dia kehendaki. Dan Dia mencari penyembah-penyembah demikian.

Apa itu menyembah dalam Roh dan kebenaran?

Kelihatannya hal itu tidak ada hubungannya dengan tempat atau tradisi. Wanita Samaria, yang berbicara dengan Yesus di pinggir sumur memulai perdebatan tentang penyembahan orang Samaria dan orang Yahudi: “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi Kamu katakan, bahwa di gunung Yerusalemlah tempat orang menyembah.” (Yohanes 4:20).

Betapa seringnya orang memperdebatkan tradisi masing-masing, dan menganggapnya yang paling benar dan terbaik. “Kami ini Baptis yang tulen…”, “Kami adalah gereja yang percaya Injil sepenuh…”, atau “Kami senang dengan cara gereja Anglikan melakukannya…”.

Tetapi penyembahan dalam Roh dan kebenaran tidak ada hubungannya dengan gedung, liturgy, denominasi, atau hal lainnya. Kita sering terpaku dengan gedung. Ada orang yang menghadiri persekutuan rumah berkata, “Ini kok tidak seperti di gereja!”.  Kita adalah gereja, dan Tuhan sedang membangunnya. Penyembahan itu bukanlah bergantung kepada mimbar dan kursi, piano dan organ, lonceng dan jendela berukiran, bahkan juga bukan kepada buku nyanyian dan OHP(Overhead Projector). Anda dan saya disatukan, bukan hanya dalam persekutuan, tetapi di dalam Tubuh Kristus, yang mana Dia adalah Kepalanya. Tuhan menginginkan aliran penyembahan yang meluap keluar dari tubuh-Nya, setiap anggota dalam kemuliaan masing-masing dan selaras satu dengan yang lainnya.

Untuk dapat menyembah Tuhan, kita harus merubah hati dan prioritas hidup, dimana tidak ada hal lain lagi yang berarti kecuali hubungan kita dengan Dia. “….penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa….’ (Yohanes 4:23). Kita lihat disini, penyembah-penyembah yang benar adalah mereka yang hidup dalam realitas hubungan dengan Tuhan kini dan sekarang, yang menyebut Dia, Bapa! Penyembahan harus berasala dari hubungan yang intim terus-menerus dengan Tuhan. Kapan terakhir kali rohmu tergerak dan berkata: “ Bapa, aku mengasihiMu, ku sembah dan ku agungkan?”

Saya teringat pada sebuah kisah dalam Yohanes 12, waktu Yesus mengunjungi Betania untuk terakhir kalinya. Sudah pasti tempat yang dikunjungi Yesus adalah rumah Lazarus, Maria dan Marta, yang merupakan tempat penuh dengan keramahan. Yesus mengasihi mereka, dan mereka mengasihi Dia. Dalam kunjungan ini, Marta seperti biasanya, sibuk mempersiapkan hidangan-hidangan. Tetapi Maria mendemonstrasikan penyembahan yang begitu indah. Dia meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni. Buat Maria cara ini adalah cara paling praktis untuk menyatakan kasih dan syukurnya kepada Yesus, yang beberapa hari sebelumnya membangkitkan saudaranya, Lazarus dari matinya. Penyembahan melibatkan hubungan (relationship), kasih dan rasa bersyukur. Perlu dicatat juga bahwa minyak narwastu itu mahal harganya. Bahkan begitu mahalnya sampai-sampai Yudas mengkritiknya. Memang dalam penyembahan ada harga yang harus dibayar, bahkan sangat mahal, yaitu seluruh hidupmu.

Menyelidiki kata asli (Yunani) untuk “menyembah”, yaitu “proskuneo”, yang berarti “sujud mencium”, membuka wawasan baru buat kita tentang penyembahan. Kata ini mempunyai implikasi suatu tindakan penuh hormat. Dalam Alkitab penyembahan selalu dikaitkan dengan orang yang berlutut atau bersujud, bahkan dengan muka sampai ke tanah. Berarti kita harus melupakan diri kita seluruhnya.

Betapa sering Tuhan hanya menerima sebagian dari perhatian kita. Jika suatu hari kita diundang ke istana Presiden, dan saat kita melihat Bapak Presiden di depan, saya percaya kita tidak lagi memperhatikan apa warna dinding dan lantai, bunga-bunga dan hiasan-hiasan. Mata kita akan tertuju sepenuhnya pada dia yang telah mengundang kita datang ke tahtanya. Penyembah benar adalah pelayanan tahta, mereka yang melihat tahta. Sering nyanyian keluar bebas dari mulut kita, tetapi pikiran kita terisi dengan lebih banyak hati lainnya daripada Ia yang bertahta di atas pujian umatNya.  Kita terisi dengan begitu banyak hal yang tidak berarti. Bahkan kadangkala lagu itu sendiri, yang dimaksudkan sebagai alat untuk penyembahan kita, menjadi pengacau. Ada bahaya yang begitu nyata untuk menyembah penyembahan, lagu (baru), dan suasana. Kita harus memandang kepada Tuhan, tahta-Nya, dan terpusat hanya pada-Nya.

Penyembahan juga tidak ada kaitannya dengan perasaan. Keinginan kita, termasuk perasaan harus ditundukkan. Apakah kita merasa ingin atau sedang tidak “in the mood”, kita akan menyembah Tuhan. Banyak orang dikuasai dengan perasaannya. Perasaaan harus menjadi hal yang sekunder disbanding dengan motivasi utama untuk menghormati dan memuliakan Tuhan. Yohanes Pembaptis menyatakan hal yang sama dengan cara yang berbeda; “Ia harus makin besar tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30).

Tuhan layak atas puji dan sembah kita. Kita memuji Dia karena Dia adalah Allah kita dan kita adalah umat kepunyaanNya (Mazmur 95:6-7). Kita diciptakan untuk memuji Tuhan (Mazmur 102:19) dan adalah baik untuk mengucap syukur pada-Nya (Mazmur 92: 2-5).Saat kita memuji Tuhan, kita berkata: “Terima kasih untuk apa yang telah Kau perbuat, sedang lakukan, dan akan laksanakan”. Saat kita menyembah Dia, kita berkata: “Aku mengasihi Engkau sebagaimana Engkau adanya”. Supaya kita dapat menjadi penyembah yang benar, kita harus melangkah dari alam memuji, dimana kita mengasihi Dia karena perbuatan-Nya, ke tempat dimana kita mengenal Dia dengan intim.

God is not so concerned with methods of worship.

He is looking for worshippers.

God is looking for people who have hearts that reach out to Him,

Lives that are open to His leading,

Ears that are sensitive to His voice.

He is looking for children who will take time

To develop a relationship with their Father.

God is looking for “doers” not “knowers”

Chris Bowater

Categories: Articles