Miracles in Our Lives

Reflection BY LUKMAN SETIAWAN

Bukan merupakan hal yang aneh jika orang suka mencari hal-hal yang spektakuler dan mencari keajaiban di hidup ini. Justru kehidupan kekristenan seharusnya dipenuhi dengan mujizat-mujizat dari Tuhan. Apakah yang harus dilakukan agar kehidupan kita dipenuhi dengan keajaiban? Pertanyaan yang lebih penting yang harus kita tanya adalah bagaimana kita memposisikan diri kita sebagai orang Kristen dalam menanggapi mujizat. Apakah kita harus mengejar mujizat terus-menerus? Ataukah kita beranggapan bahwa zaman mujizat itu terlah berlalu dan hanya terjadi di masa gereja mula-mula?

Yesus melakukan banyak mujizat dalam pelayanan-Nya. Kitab Yohanes sering disebut dengan kitab tanda-tanda karena dalam tujuan kitab Yohanes, yang tertera pada Yohanes 20: 30-31, dikatakan “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus… tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya….” Dalam kitab ini memang sengaja dipilih beberapa dari mujizat yang dilakukan Yesus dengan tujuan supaya kita percaya.

Dalam kitab Injil Yohanes terdapat 7 tanda. Dalam renungan ini, kita akan lihat empat mujizat pertama yang dicatat oleh Yohanes dan apa yang hendak disampaikan Yohanes melalui tanda-tanda yang dipilih ini.

Mujizat pertama (Yoh 2:1-11) pernikahan di Kana. Mujizat ini terjadi saat awal pelayanan Yesus dimana Dia mengubah air menjadi anggur dalam pesta pernikahan di Kana. Banyak orang berpikir bahwa mujizat ini terjadi karena permintaan Maria, ibu Yesus, kepada Yesus. Namun kalau kita pelajari kitab ini , Yesus jelas-jelas menolak permintaan ibu-Nya (ay.4). Yang menjadi masalah disini adalah “waktu”. Dengan mujizat ini maka pelayanan ini akan dimulai- Dia akan mulai dicari orang, mulai ditanyai orang  dan rencana penyelamatan melalui salibpun dimulai. Mujizat itu terjadi dalam “waktu” Tuhan dan sesuai dengan rencana Tuhan. Sering kita menjerit pada Tuhan, “Kapan Engkau menolong aku?” Kalau kita mau melihat mujizat Tuhan, kita harus masuk dalam agenda-Nya serta menunggu waktu-Nya. Namun tenanglah sebab Tuhan tak akan membiarkan anak-Nya menunggu terlalu lama.

Mujizat kedua (Yoh4:46-54) penyembuhan anak pegawai istana. Dalam mujizat ini ada seorang pejabat istana dari Kapernaum yang mencari Yesus sampai ke Kana. Hal yang dapat dipelajari dalam kejadian ini adalah diperlukannya kerendahan hati dalam menanggapi mujizat Tuhan. Pejabat ini pasti merupakan orang terhormat yang memiliki bawahan bahkan tentara. Namun dia tidak menyuruh bawahannya mencari Yesus atau memakai tentara memaksa Yesus, tetapi dia sendiri merendahkan diri pergi ke kota kecil dan mencari Yesus. Mujizat akan terjadi jika kita merendahkan diri dan hidup dalam otoritas Tuhan bukan otoritas sendiri.

Mujizat ketiga (Yoh 5: 1-9) orang lumpuh di Betesda. Dalam kejadian ini, orang lumpuh ini menunggu di kolam Betesda untuk penyembuhan, karena konon jika kolam itu digoncang, orang pertama masuk ke kolam itu akan disembuhkan. Beberapa hal yang kita pelajari dari orang ini adalah pengharapannya yang teguh. Sering kita terlalu cepat menyerah pada hal yang di mata kita  tak mungkin –  teman yang sangat susah bertobat, keluarga yang menolak iman kita, tugas yang berat, dll. Orang ini sabar menunggu dan berpengharapan besar bahwa suatu waktu dia akan disembuhkan, walau dengan kelumpuhannya adalah hal yang hampir tidak mungkin untuk menjadi orang yang pertama mencapai kolam tersebut. Maka dia tetap berada di dalam Betesda – rumah yang penuh dengan kebaikan. Kita akan melihat mujizat jika kita tetap dalam rumah Tuhan dan memiliki pengharapan dalam Dia dan menunggu dengan sabar.

Mujizat keempat (Yoh6:1-15) memberi makan 5000 orang. Kita sering mendengar mengenai mujizat ini dimana 5000 orang, setelah mendengarkan Yesus, tak dapat menemukan tempat makan di daerah itu. Tetapi Yesus, dengan 5 roti dan 2 ikan, mengenyangkan semuanya. Kunci dari mujizat ini adalah ketaatan walau dengan pengorbanan. Unsur dari mujizat ini, selain Yesus dan kuasa-Nya, adalah 5 roti dan 2 ikan yang merupakan bekal dari seorang anak – satu-satunya bekal yang dimiliki anak itu. Secara logis anak itu tak seharusnya memberikan bekalnya, namun karena ketaatannya di luar logikanya maka Tuhan menunjukkan mujizat-Nya. Sering kita tak melihat mujizat karena kita tidak taat dan terbatas dengan logika kita untuk tidak melakukan perintah Tuhan. Kadang perintah Tuhan itu tidak rasional namun jika kita taat kita akan melihat mujizat itu.

Categories: Articles