Miracles in Our Lives (Pt.2)

Reflection BY LUKMAN SETIAWAN

Dalam ACTs edisi lalu, kita belajar tentang mujizat dalam kehidupan kita melalui 4 mujizat yang dilakukan Yesus dan ditulis dalam Injil Yohanes; merubah air menjadi anggur, menyembuhkan anak pegawai istana, menyembuhkan orang lumpuh di Betesda, memberi makan 5000 orang. Reflection edisi akan membahas tiga mujizat Yesus lainnya dalam Injil Yohanes dan apa yang dapat kita pelajari dari ketiga mujizat ini.

Mujizat kelima ( Yoh 6:16-21) Yesus berjalan di atas air. Dalam mujizat ini murid-murid Yesus ketakutan karena badai yang menimpa perahu mereka. Hidup kita juga bisa digambarkan dengan perjalanan perahu yang kadang mengalami ombak badai, kadang tenang. Namun intinya apakah Yesus tinggal dalam perahu kita? Jika tidak, hidup kita akan dipenuhi dengan ketakutan dan ketidaktentuan. Namun jika Yesus ada dalam perahu kita, maka kita akan tenang bahkan kita akan selalu melihat mujizat. Kita tidak melihat mujizat dalam kehidupan kita karena kita tidak menyertakan Yesus dalam kehidupan kita. Jika Yesus ada dalam kita maka kita pasti akan melihat mujizat itu.

Mujizat keenam (Yoh 9:1-7) orang buta dicelikkan. Dalam mujizat ini lebih ditekankan tujuan mujizat itu sendiri, yaitu agar nama Tuhan lebih dimuliakan (ayat 3). Kita sering menganggap mujizat itu terjadi untuk kepentingan kita dan kehebatan kita. Dalam mujizat ini Yesus mengatakan bahwa itu semua terjadi untuk kemuliaan Tuhan, bukan kepentingan kita. Kita yang sudah mengalami mujizat itu, seharusnya membagi mujizat itu untuk agar nama Tuhan dimuliakan seperti yang dilakukan oleh orang buta itu dalam ayat 25, dimana dia menjadi saksi Tuhan dan nama Tuhan  semakin dimuliakan. Jadi mujizat itu terjadi untuk kemuliaan Dia, bukan kepentingan kita.

Mujizat terakhir (Yoh 11: 1-44) kebangkitan Lazarus. Mujizat yang terbesar ini dilakukan mendekat akhir pelayanan Yesus. Mujizat ini berbeda dengan mujizat-mujizat yang Yesus telah lakukan. Mujizat ini dilakukan di depan umum (ayat 40-41)dan Dia berdoa untuk orang umum supaya percaya. Mujizat ini adalah yang terbesar karena dengan mujizat ini menandakan bahwa mautpun dikalahkan Yesus, dan ini akan menjadi kuasa kita saat kita menerima Dia yang telah mengalahkan maut secara penuh dalam kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya.

Kita telah belajar beberapa unsurr dari keajaiban yang dilakukan Yesus, apa saja yang perlu ada agar keajaiban itu akan membuat itu akan membuat kita bertumbuh, menjadi kesaksian kita untuk kemuliaan Tuhan, dan menujukkan pada dunia bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sering kita berpikir bahwa kesembuhan atau kebangkitan dari mati adalah hal yang supernatural. Namun kita salah karena penyakit dan kematian itu tidak ada dalam rencana awal penciptaan Tuhan. Hal itu datang setelah dosa memasuki kehidupan manusia. Justru kesembuhan dan kebangkitan adalah hal yang normal dalam dunia yang tidak normal ini. Jurgen Moltmann mengatakan, “Mujizat dari Yesus bukan kejadian luar biasa di dunia yang normal. Mereka adalah hal yang benar-benar normal dalam dunia yang sudah tidak natural, dunia yang berdosa dan sedang terluka.”

Lebih lanjut lagi jangan sampai iman kita bergantung pada mujizat yang kita alami. Sebenarnya mujizat Yesus terjadi karena iman kita. Dia tidak melakukan hal yang banyak di depan orang yang tidak percaya. Mat 13:38 “Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakanNya disitu.” Fyodor Dostoevsky mengatakan, “Seorang realis yang murni adalah orang yang tidak percaya, yang dapat menemukan kekuatan dan kemampuan untuk tidak percaya pada mujizat, dan kalau dia melihat mujizat disertai dengan bukti yang jelas, dia akan memilih untuk tidak percaya daripada menerima kenyataan. Iman tidak timbul dari mujizat namun mujizat timbul dari iman kita.”

Biarlah kita mengalami mujizat pada waktu Tuhan, dalam otoritas Tuhan, punya harapan dan kesabaran, ketaatan kita dengan tanpa logis, jika hidup dalam Kristus, dan kita sadar bahwa mujizat terjadi untuk kemuliaan Tuhan. Kita harus sadar bahwa ematian dan mujizat yang terbesar adalah kematian dan kebangkitan Kristus yang menyelamatkan kita. Janganlah hanya mengejar mujizat namun besarkanlah juga iman kita pada Dia maka kita akan melihat mujizat melalui iman kita.

Categories: Articles